Keyword 1

Keyword 2

«

»

Cetak ini Pos

Mengapa Harus Organik ?

Pangan organik menjadi trend masa kini.
Ketika orang-orang sadar bahwa kesehatan adalah bagian yang sangat penting dalam hidup, maka orang  mulai berpikir ada cara-cara yang bisa di lakukan untuk mencapai hidup yang sehat. Salah satunya adalah dengan mengkonsumsi pangan organik. Pangan organik adalah pangan yang dalam prosesnya menggunakan sistem ramah lingkungan dan bebas dari zat kimia yang berbahaya bagi tubuh.

Untuk menyuburkan tanah petani menggunakan pupuk alami seperti pupuk hijau, pupuk kandang pupuk hayati, atau pupuk kompos. Pupuk yang di gunakan untuk pertanian organik tidak berasal dari bahan kimia sintetis. Bahan kimia sintetis berasal dari minyak bumi yang artinya berasal dari sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui. Produk-produk dari minyak bumi tidak dapat terurai oleh alam, sehingga akan menyebabkan keracunan tanah dan air. Begitu pula dengan pestisida yang digunakan adalah pestisida alami yang diracik dari dedaunan atau tumbuhan  yang mempunyai rasa pahit atau pedas. Pestisida alami pun hanya digunakan jika tanaman benar-benar membutuhkan karena serangan hama.

Aplikasi Ultra Gen pada tanaman Sawit: Hasil 30-45 Kg/TBS

Aplikasi Ultra Gen pada tanaman Sawit: Hasil 30-45 Kg/TBS

Proses pertanian yang konvensional yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia membuat kita mengkonsumsi  pangan yang terkena racun. Mulai dari lingkungan (tanah, air udara), kesehatan dan petani sendiri yang berhubungan langsung dengan zat-zat kimia akan berbahaya. Residu kimia yang disemprotkan pada tanaman akan terus tinggal dalam kulit dan buah serta batang tanaman yang kita konsumsi. Tanpa disadari lama kelamaan residu ini akan terus menumpuk, dan terbentuklah berbagai penyakit seperti kanker, liver dan lain sebagainya dalam tubuh manusia.

Tidak semua petani mengolah tanamannya dengan sistem konvensional.  Beberapa petani sudah tidak menggunakan pestisida kimia. Penggunaan pupuk kompos atau pupuk kandang juga mulai digunakan. Walau belum bisa meninggalkan  pupuk kimia 100%, setidaknya mereka sudah mulai mengurangi ketergantungan akan pupuk dan pestisida kimia.

Keuntungan lain yang didapat oleh petani adalah biaya produksi menjadi semakin rendah. Pupuk kompos dapat dibuat sendiri oleh petani, bahan-bahannya pun mudah didapat, seperti kotoran ternak (kotoran sapi, kambing, kerbau, ayam, itik), sekam padi, dedak, jerami padi, sisa-sisa makanan ternak pun dapat dijadikan pupuk kompos.
Pemahaman akan arti pentingnya mengkonsumsi makanan yang sehat tetap harus dilakukan. Harapannya ketika produsen dan konsumen paham akan hal ini, maka seluruh masyarakat Aceh khususnya dan penduduk dunia umumnya menjadi sehat.
Dengan berubah dari pertanian konvensional ke pertanian organik, lingkungan juga akan tetap lestari. Tidak ada lagi kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Air tidak lagi tercemari, hewan-hewan akan tetap dapat hidup berdampingan. Rantai makanan tidak terputus sehingga kekhawatiran akan ledakan hama tertentu dapat dihindari.

Ciri Pangan Organik
Untuk produk organik seperti beras, sayuran, buah-buahan organik, konsumen baru percaya akan  produk organik bila pada produk tersebut dicantumkan label organik. Label organik  yaitu sertifikat organik yang dikeluarkan oleh badan sertifikasi. Label organik ini yang belum dimiliki oleh petani kita yang sudah tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia.
Beberapa ciri khas dari suatu produk pangan organik biasanya rasanya lebih manis, lebih renyah, warnanya lebih alami dan tahan lama. Beberapa orang mengatakan daun yang berlubang karena dimakan ulat dan warna yang kurang hijau atau kusam juga salah satu tanda suatu produk pangan organik, tetapi ini bukan ciri yang khusus. Banyak juga produk organik memiliki warna yang segar dan daunnya tidak dimakan ulat.

Kearifan Lokal
Menciptakan pangan organik sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pertanian organik menganut prinsip-prinsip keberlanjutan alam dan menghargai kearifan lokal serta budaya setempat. Nilai-nilai keadilan, kebersamaan, semangat gotong royang, menghargai alam harus ada dalam proses memproduksi pangan organik.

Pendahulu kita adalah petani-petani organik sebelum agrokimia masuk dalam dunia pertanian kita.  Dulu mereka tidak mengenal yang namanya pupuk dan pestisida kimia. Pola tanam yang selang seling antara padi dan kacang-kacangan atau tanaman muda lainnya membuat unsur hara dalam tanah tetap terpelihara, sehingga tanah tidak perlu penambahan pupuk. Tetapi sejak revolusi hijau yang diantaranya memperkenalkan pupuk, pestisida, dan bibit yang padi yang umurnya pendek membuat petani menanam padi dua sampai dengan 3 kali dalam setahun. Memang disadari hasil padi melimpah hingga Indonesia menjadi negara swasembada pangan, bahkan menjadi Negara pengekspor beras pada era tahun 80-an. Tetapi akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang terus-menerus kesuburan tanah menjadi berkurang, tanah miskin hara, ledakan hama terjadi di mana-mana. pencemaran udara, air, dan tanah tidak terhindarkan dengan pola pertanian konvensional.

Bibit padi unggul atau padi hibrida hasil rekayasa genetik disajikan untuk petani beserta ikutannya yaitu pupuk dan pestisida kimia. hal ini membuat petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengolah tanah sawah mereka. Pupuk dan pestisida hanya cocok untuk jenis bibit padi tertentu, satu paket yang tidak boleh kurang salah satu di antaranya.
Dulu nenek-nenek kita selalu menyimpan padi yang masih berjerami pada saat panen tiba, kemudian padi tersebut digantung di atas perapian. Begitu musim turun ke sawah tiba mereka menjadikan padi-padi tersebut sebagai bibit yang akan ditanam kembali. Mereka  Tidak harus membeli bibit padi seperti petani kita sekarang. Saling bertukar benih padi di antara sesama petani. Tetapi sekarang petani harus membelinya di warung-warung yang menjual bahan kebutuhan pertanian.

Tidak heran kejadian seperti ini yang menyebabkan petani sebagai produsen bahan pangan masih hidup serba kekurangan. Kesejahteraannya masih memprihatinkan. Belum lagi bercerita ongkos-ongkos lain yang harus dikeluarkan seperti upah untuk traktor, upah menanam padi, upah untuk mesin perontok pada saat panen tiba, mengangkut hasil panen ke rumah semuanya mengeluarkan biaya. Semangat gotong royong telah luntur dalam jiwa petani kita. Hanya karena semuanya ingin cepat dan praktis kita melupakan nilai-nilai yang melekat dalam jiwa leluhur kita.
Kita hanya dapat berharap bahwa dengan kesadaran semua pihak akan pentingnya menciptakan pangan yang sehat, tentu pertanian organik yang dalam pelaksanaannya selaras dengan alam adalah pilihan yang lebih baik. Kembali ke pola-pola pertanian yang pernah dilakukan oleh pendahulu kita membuat hidup kita lebih sehat, aman dan makmur.

Narasumber: hidupsegaralami.blogspot

Tautan permanen menuju artikel ini: http://pupukorganik.co/mengapa-harus-organik/